AdventorialMurataraPemerintahanSumatera Selatan

Tekan Angka Kemiskinan Ekstrem,Muratara Siap Langkah Terpadu

OKESIBER.COM,URATARA – Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) menggelar rapat strategis membahas data kemiskinan ekstrem tahun 2026 di Ruang Rapat Lantai II BPKAD, Kamis (26/02/2026). Rapat dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan, didampingi Kepala Bappeda, Kepala BPKAD, serta seluruh kepala OPD terkait dan camat se-Kabupaten Muratara.

Agenda utama pertemuan ini adalah menyepakati data kemiskinan yang akan digunakan sebagai rujukan resmi program penanggulangan kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem. Pemerintah menegaskan pentingnya konsistensi data agar intervensi kebijakan tepat sasaran.

Gunakan Pendekatan Moneter BPS

Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa pengukuran kemiskinan tetap mengacu pada metode resmi Badan Pusat Statistik (BPS), yakni pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach).

Penduduk dikategorikan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah Garis Kemiskinan, yang terdiri dari:

Garis Kemiskinan Makanan (setara 2.100 kkal per kapita per hari)

Garis Kemiskinan Non-Makanan (perumahan, pendidikan, kesehatan, sandang, dan kebutuhan dasar lainnya)

Data utama bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

“Besar kecil angka itu tidak apa-apa, yang penting konsisten dan bisa kita pertanggungjawabkan,” tegas pimpinan rapat.

Tantangan Demografi: Penduduk Jarang, Wilayah Luas

Berdasarkan proyeksi 2026, jumlah penduduk Muratara sekitar 203 ribu jiwa, atau hanya sekitar 2,25 persen dari total penduduk Sumatera Selatan.

Dengan kepadatan penduduk sekitar 33 jiwa/km², Muratara tergolong daerah dengan persebaran penduduk yang jarang dibanding rata-rata Sumsel (sekitar 100 jiwa/km²).

Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri:

Akses layanan pendidikan dan kesehatan menjadi lebih mahal secara distribusi.

Infrastruktur dasar harus menjangkau desa-desa terpencil.

Efektivitas program bantuan sosial membutuhkan validasi data yang detail hingga tingkat desa.

Bonus Demografi dan Ancaman Penuaan Penduduk

Komposisi umur penduduk Muratara menunjukkan:

Usia 0–14 tahun: ±25 persen

Usia produktif (15–64 tahun): ±67 persen

Usia 65 tahun ke atas: meningkat signifikan

Mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Namun, tren harapan hidup yang semakin tinggi membuat jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas terus bertambah — dan didominasi perempuan.

Kondisi ini menjadi perhatian serius lintas OPD, khususnya sektor kesehatan dan sosial.

 

“Ke depan, kita harus siapkan desain kebijakan untuk lansia. Jangan sampai populasi usia lanjut meningkat, tetapi dukungan sosial dan kesehatannya tidak siap,” ujar peserta rapat.

 

Struktur Ekonomi Masih Bertumpu Sektor Primer

Struktur ekonomi Sumsel Triwulan IV-2025 masih didominasi sektor primer (37,14 persen). Muratara termasuk daerah yang bertumpu pada sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan.

 

Sektor sekunder (industri pengolahan) di Muratara masih relatif kecil, sehingga:

 

Lapangan kerja formal terbatas

Nilai tambah ekonomi belum optimal

Ketergantungan pada komoditas primer masih tinggi

Di sisi ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Muratara tahun 2025 tercatat sekitar 4,78 persen, termasuk tiga besar tertinggi di Sumsel.

Hal ini menjadi faktor penting dalam pengendalian kemiskinan ekstrem.

 

Fokus 2026: Intervensi Tepat Sasaran

Rapat menghasilkan beberapa poin penting:

 

Penyelarasan satu data kemiskinan hingga tingkat desa.

Penguatan program pengurangan beban pengeluaran (bansos, jaminan kesehatan).

 

Peningkatan pendapatan melalui pemberdayaan UMKM dan sektor produktif.

 

Sinergi lintas OPD dalam penanganan lansia miskin dan rentan.

Seluruh camat dan kepala desa diminta aktif melakukan verifikasi dan validasi data agar tidak terjadi tumpang tindih penerima manfaat.

 

Komitmen Bersama

Pemkab Muratara menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan ekstrem bukan hanya soal angka, melainkan tentang memastikan setiap warga mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar yang layak.

 

Dengan konsistensi data, penguatan sektor produktif, serta kesiapan menghadapi perubahan struktur penduduk, Muratara menargetkan penurunan signifikan angka kemiskinan ekstrem pada 2026.

 

“Data adalah fondasi kebijakan. Kalau datanya kuat, intervensinya pasti tepat,” tutup pimpinan rapat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button